Tampilkan postingan dengan label Cerita Tentang Masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Tentang Masjid. Tampilkan semua postingan
salty_fish
Istilah ini sendiri saya dapat waktu awal-awal masa kuliah. Waktu itu lagi jaman-jamannya mentoring untuk Mahasiswa baru seperti saya. Cerita ini didapat dari buah diskusi dalam sebuah kelompok kecil. Cerita yang digunakan untuk memotivasi kami para pemuda (waktu itu) untuk giat meramaikan dan mensejahterakan Masjid. Ini adalah sebuah istilah untuk menggambarkan orang-orang yang (kala itu) menjadi orang-orang yang men-sejahterakan masjid. Men-sejahterakan dalam artian meramaikannya dengan sholat berjamaah dan kegiatan-kegiatan pengajian didalamnya.

Piramida Masjid… begitulah istilah yang digunakan. Sebagaimana yang telah diketahui dari bentuknya, bagian bawah adalah yang paling besar jumlahnya, dan terus berkurang hingga mengerucut dipuncaknya. Lagi-lagi, ini adalah gambaran yang digunakan untuk menunjukkan siapakah orang-orang yang mensejahterkan masjid. 
Bagian dasar atau yang paling besar jumlahnya adalah para pensiunan dan orang-orang lanjut usia. Golongan ini yang biasanya paling banyak kita jumpai didalam masjid. Selanjutnya adalah Anak-anak. Golongan ini biasanya meramaikan masjid dengan keriuhan.. Berturut-turut berikutnya saling berlomba dalam hal sedikitnya jumlah adalah para remaja/pemuda dan orang-orang pada usia kerja produktif. Mereka adalah golongan yang sepertinya menyisakan hanya sedikit waktu dari kesehariannya untuk sekadar berkunjung ke masjid.

Entah.. saya sendiri bingung.. apakah istilah tersebut masih relevan digunakan saat ini.. Dari perjalanan saya diberbagai kota, rasa-rasanya agak sulit untuk memberikan gambaran secara mutlak tentang hal ini. Jika yang dicari adalah para pemuda dan orang-orang pada usia kerja produktif, mungkin sedari dulu sudah jarang ditemui. Tapi yang aneh adalah.. berapa banyak pensiunan dan orang-orang lanjut usia yang menghabiskan waktunya di masjid akhir-akhir ini?. Belum lagi.. jarang sekali rasanya menemukan keriuhan dan keramaian anak-anak didalam masjid seperti pada saat saya masih kecil..



Saya termasuk anak ‘nakal’ yang sering meramaikan masjid.. Mulai dari ketika mengaji dengan ‘Juz Amma’ hingga beralih ke-EraTPA. Saya termasuk anak yang sering berulah.. Mulai dari Sholat Maghrib berjamaah, Sholat Tarawih di Bulan Romadhan, hingga sholat Jumat, selalu di-iringi dengan keceriaan dan canda-tawa. Masjid serasa tempat bermain yang menyenangkan.. mungkin rasa ini yang tetap berusaha saya pertahankan dan jaga saat ini dan insyaAllah hingga masa yang akan datang.
Oceha, omelan, hingga kemarahan dari bapak-bapak ketika sholat di Masjid merupakan hal yang biasa bagi saya kala itu.. pernah juga seorang bapak marah dan menyuruh kami untuk keluar dari masjid.. Alhamdulillah pada saat itu ada seorang bapak yang dengan santun membela kami dan membisiki kami untuk tetap berada d Masjid.. “Kalau kamu keluar.. itu sama dengan kamu seorang penakut” bisik seorang bapak saat itu.. “kalau memang kamu merasa bersalah.. cukuplah tenang dan jangan berisik..”lanjutnya. Ucapan yang membuat saya tenang dan tetap berada didalam masjid malam itu. Meskipun keesokan harinya kami kembali berisik.. 
Pernah suatu kali, saya dimarahi habis-habisan oleh ibu saya, lantaran saya ketahuan ‘nakal’ saat sedang sholat Tarawih di sebuah Masjid besar di kota itu, mungkin saja ada laporan dari para tetangga. Kemarahan yang membuat saya menagis sejadi-jadinya malam itu.. Tapi saya merasa beruntung, Alhamdulillahkemarahan ibu tidak pernah disertai dengan larangan untuk sholat di Masjid. Sesuatu yang menurut saya sungguh menarik.. kebanyakan orang tua melampiaskan kemarahannya disertai dengan larangan kepada anak untuk sholat di Masjid. Rasa malu yang membuat mereka menahan anak-nya untuk mencintai masjid.. Justru saya lebih sering dimarahi lantaran sering kabur ketika ada hapalan di pengajian.. atau pada saat bulan Romadhan tidak berangkat sholat Tarawih.. Saya sendiri sering tersenyum jika mengingat saat itu..siasat jitu yang sering saya gunakan adalah, jika ketahuan ‘nakal’ di satu masjid.. itu berarti untuk pindah ke Masjid lainnya…akal-akalan yang membuat saya tetap bisa bermain-main dimasjid.

Rindu rasanya mendengarkan keriuhan dan kenakalan anak-anak didalam Masjid. Hening terasa masjid tanpa omelan dari orang-orang tua yang berusaha menenangkan anak-anak yang terus tertawa. Hanya ke-Egoisan dari para orang tua yang menahan keceriaan didalam masjid. Rasa malu lantaran kenakalan anak-anaknya didalam masjid membuat keadaan seperti ini. Padahal ingatkah kita akan cerita Hasan dan Husein ibn Ali [Rodiallahuanhuma] yang bergantian menaiki punggung Rosulullah [Sholallahu’alahi wassalam] ketika sedang menjadi imam sholat berjamaah. Atau kisah tentang Rosulullah [Sholallahu’alahi wassalam] yang menggendong cucu perempuannya ketika sedang sholat berjamaah. Betapa indah rasanya..



Dimana pula para pemuda, para aktivis kampus, dan orang-orang pada usia kerja produktif..?! Padahal di masa-masa perjuangan islam, merekalah yang menjadi tumpuan utama pergerakan bersama-sama Rosulullah. Didalam Masjid lah mereka di’bentuk’, dan dengan mensejahterakan masjidlah mereka berjuang.. 





…..
Di dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Mas`ud radhiyallahu 'anhu mengatakan:"Sesungguhnya kami telah menyaksikan, bahwa tidak ada yang meninggalkan shalat berjama`ah (di masa kami) kecuali orang munafiq yang telah jelas kemunafikannya, atau orang sakit. Padahal ada di antara yang sakit berjalan de-ngan diapit oleh dua orang untuk mendatangi shalat berjama`ah". 
Dan dia juga berkata: 
" Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengajari kami sunnah-sunnah agama, dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah shalat di masjid yang dikumandangkan adzan di dalamnya". 
Dan di dalam Shahih Muslim juga dia berkata: 
"Barangsiapa yang ingin berjumpa Allah di kemudian hari dalam keadaan muslim, maka hendaklah ia memelihara shalat lima waktu ini dengan melakukannya dimana saja ada seruan adzan, karena sesungguhnya Allah telah menetapkan (mensyari`atkan) jalan-jalan menuju hidayah (petunjuk-petunjuk agama), dan sesungguhnya melakukan shalat lima waktu dengan berja-ma'ah adalah termasuk jalan-jalan menuju hidayah. Maka sekiranya kalian shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang yang lalai melakukannya di rumah, maka berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) nabi kalian, dan jika kalian meninggalkan sunnah nabi kali-an, niscaya kalian sesat. Dan tiada seseorang bersuci (berwudhu), lalu melakukannya dengan baik (sempurna), kemudian ia datang ke salah satu masjid dari masjid-masjid yang ada ini, melainkan Allah mencatat baginya satu keba-jikan untuk setiap langkah yang ia ayunkan, dan Dia mengangkatnya satu derajat karena langkah itu, serta Dia hapuskan dari padanya satu dosa. Sesungguhnya, kami telah menyaksikan, bahwa tiada seorang pun yang meninggalkan shalat berjama`ah (di masa kami), kecuali orang munafiq yang sudah jelas kemunafikannya. Dan sesungguhnya ada orang yang diapit oleh dua orang menuju masjid hingga didirikan di shaf." 
Di dalam shahih Muslim juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seorang buta yang berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya tidak ada orang yang menuntunku ke masjid, apakah ada keringanan bagiku untuk shalat di rumahku? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: Apakah kamu mendengar seruan adzan? Orang itu menjawab: Ya. Maka Nabi bersabda: Kalau begitu penuhi seruan itu." 

Pasca tragedi pembantaian kaum muslimin oleh Yahudi di Masjidil Aqso beberapa tahun yang lalu, ada seorang muslim yang bertemu dengan orang Yahudi, lalu berkata: “Meskipun lama, namaun suatu ketika nani kami akan mengusir kalian dari Palestina dengan hina dina, dan kami akan merebut kembali Masjidil Aqso, sehingga pohon dan batu akan membantu kami dalam memerangi kalian”. Yang mengherankan orang Yahudi itu berkata: “Ya, itu benar. Hal itu kami baca dalam kitab kami, dan diketahui oleh kami baik yang alim maupun yang bodoh, namun (yang mengalahkan kami) bukan muslimin (semacam) kalian”. Maka muslim itu berkata: “Lalu siapa?”. Yahudi itu menjawab: “Mereka adalah kaum muslimin yang jamaah sholat Subuhnya sama dengan jumlah jamaah sholat Jum’at”. (Muktashor Asyrotus Sa’ah, taddim: Syaikh Abdullah Al Jibrin hlm: 28). Wahai Kaum muslimin, kapankah kita menjadi seperti itu?. (Dikutip dari Majalah Al Furqon Ed.7 Th-8 1430H)

salty_fish
Di sisi yang berbeda..

Ingat cerita tentang Masjid berkubah emas di Indonesia?? Kalau saya tidak salah ingat Masjid itu bernama Masjid Dian Al-Mahdi (CMIIW). Tahukah anda, ternyata tak banyak jumlahnya Masjid dengan kubah Emas seperti itu di Dunia, bahkan jumlahnya pun bisa dihitung dengan jari.. Indah memang.. dan tentu saja elok dipandang mata. Arsitektur dan bagian Masjid yang ‘Wah..’ tak hanya membuat orang menjadi kagum, tapi juga jadi shilaf mata.. Bagaimana tidak.. dengan kemewahan seperti itu, berapa banyak ‘fulus’ yang dikeluarkan.. dan jika dijual kembali, berapa banyak uang yang didapatkan?. Maka tak heran, jika konon khabarnya ‘pengunjung’ Masjid tersebut diberlakukan beberapa ‘aturan main’..
Saya sendiri belum pernah ‘berkunjung’ ke Masjid tersebut.. tapi ada beberapa cerita dari Masjid-masjid sejenis.. 
Beberapa kali, ketika dalam perjalanan, saya berhenti sejenak ketika Adzan dikumandangkan.. pernah saya ‘mampir’ ke sebuah Masjid yang dibangun dengan megah.. waktu itu dalam hati saya berguman.. “sudah masuk waktu sholat nih.. sholat di masjid ini, sepertinya menarik..”. 
Masuk ke halaman depan saja saya sudah disuguhi pilar-pilar yang berdiri kokoh, belum lagi lantai keramik yang menghias teras depan Masjid tersebut.. sekilas saya mengintip ke tempat wudhu yang juga menarik. Hanya saja, tempat wudhu itu terkunci, dan saya pun (dan beberapa orang lainnya) berwudhu di keran air yang tersedia dibagian depan Masjid. Saya tertegun dan heran melihat beberapa orang sholat di teras Masjid. Dalam hati saya bertanya. “ kenapa juga tidak sholat didalam..?”. Namun, setelah melihat dan mencoba membuka pintu Masjid saya baru sadar.. Pintu Masjid ternyata terkunci..! Dan jelaslah sudah, mengapa tidak ada seorangpun yang sholat didalam Masjid. Akhrnya bersama-sama segelintir orang, saya sholat berjamaah di Teras Masjid yang Megah itu..

Pernah juga.. saya datang terlambat ke sebuah Masjid di kota yang berbeda. Ketika saya datang, Sholat berjamaah telah selesai ditunaikan, dan Jamaah pun beranjak meninggalkan Masjid. Awalnya saya (dan beberapa orang yang terlambat lainnya), hendak sholat didalam Masjid.. tapi kemudian saya tegur pelan oleh seorang pengurus Masjid.. “Maaf mas.. mohon sholat diluar..”. Saya tertegun sejenak tanpa ekspresi.. “Maaf.. saya mau pulang.. pintu-nya mau saya kunci..” Lanjut pengurus Masjid tersebut. Dengan senyum sedikit dipaksakan saya terpasa mengalah sholat di teras Masjid setelah pengurus Masjid bergegas menutup dan mengunci pintu Masjid.. 
Saya sering sholat di Masjid itu.. dan saya juga ingat.. dipintu masuk Masjid tersebut tertulis beberapa aturan yang sengaja dibuat oleh pengurus Masjid. Ada banyak butir aturan yang termuat pada selembar kertas yang ditempel di depan pintu masuk Masjid itu.. Harus ini.. Harus itu.. tidak boleh begini.. tidak boleh begitu.. dan aturan main lainnya yang tak terlalu saya perhatikan karena saya pikir beberapa butir aturan tersebut sugguh terlalu….

Lain Masjid lain pula cerita.. Di sebuah kota, saya pernah mencari-cari masjid karena sudah masuk waktu sholat.. setelah bertanya-tanya pada penduduk sekitar, akhirnya saya mendapati sebuah Masjid yang cukup besar.. Hanya saja, Jelas mencolok tak ada seorang pun yang beraktifitas disana.. Setegah ragu saya masuk ke pelataran Masjid, dan tak lama kemudian saya ditegur oleh seorang Laki-laki.. “Maaf mas… mau sholat yah??” Saya pun secara refleks menjawab dengan senyuman dan anggukan kecil.. Laki-laki itu kemudian langsung melanjutkan perkataanya.. “Maaf disini agak tidak aman.. jadi pintu Masjidnya saya kunci..”. “Tunggu sebentar ya.. saya ambilkan kuncinya..”. Laki-laki itu kemudian bergegas mengambil kunci Masjid. Selanjutnya dia berkata “Maaf mas.. silahkan sholat saja.. saya masih ada pekerjaan..” imbuhnya.. “Kalau sudah selesai.. tutup saja pintunya.. nanti saya kunci kembali..” Laki-laki itu pun kemudian berlalu sambil melanjutkan aktifitasnya.. 
Lagi-lagi saya tidak merasa terlalu aneh. Banyak orang yang bermental bejad memanfaatkan Masjid sebagai “Target Operasinya.”. Sandal hilang itu sudah biasa.. Sound system dan kotak Amal-pun sekarang sudah tak luput dari incaran..

Lagi-lagi potret yang unik, kalau tidak mau dibilang aneh, tentang Masjid disekitar kita.. Masjid-masjid dibagun dengan ‘Wah..’ tapi jarang sekali yang meramaikannya. Mensejahterakan Masjid disalah artikan denga bermegah-megah bagunannya. Padahal, yang dimaksud dengan men-sejahtera-kan Masjid adalah dengan meramaikannya dengan segala bentuk aktifitas ke-Agama-an. 
Ramaikan-lah Masjid dengan sholat berjamaah disana.. ramaikan-lah masjid dengan kajian-kajian didalamnya..
Masjid yang dibagun mewah terkadang hanya digunakan untuk acara-acara tertentu saja.. kajian-kajian untuk kalangan tertentu saja.. bahkan dimulai dari beberapa tahun yang lalu, Masjid yang mewah sering digunakan untuk acara Akad nikah atau acara lainnya yang ‘Wah..’ pula..
Masjid haya dibuka pada saat mereka ‘yang punya’ datang berkunjung..
Jika ditanya, jawab-nya Masjid adalah Rumah Ibadah.. Rumah Allah[subhanallahuta’ala].. 
Kalau dilihat kenyataanya, yang tersirat didalam hati hanya sebuah pertanyaan..Ini Rumah Siapa..??

bersambung….. InsyaAlloh….




Dari Ibnu Abbas [Rodiallohuanhuma], Rosulullah [Sholallahu’alaihi wassalam]bersabda:
”Aku tidak diperintahkan untuk menghiasi Masjid”
(HR. Abu Dawud dan Sohih menurut Ibnu Hibban)

Dari Anas [Rodiallohuanh], bahwa Rosulullah [Sholallahu’alaihi wassalam]bersabda:
”Tidak akan terjadi kiamat hingga orang-orang berbangga-bangga dengan (kemegahan) masjid”
(Dikeluarkan oleh Abu dawud, Nasa’I, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad. Hadis Sohih menurut Ibnu Huzaimah) Dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan bahwa Anas[Rodiallohuanh] berkata: Saya mendengar Rosulullah [Sholallahu’alaihi wassalam]bersabda: “ bakal datang kepada umatku suatu jaman yang pada saat itu mereka bermegah-megah dengan masjid, namun mereka tidak memakmurkannya kecuali sedikit”



Cerita selanjutnya tentang.. Piramida Masjid.. (mungkin) sedikit memerahkan telinga.. InsyaAlloh….



salty_fish
Beberapa waktu yang lalu..

“Maaf mas.. toiletnya sedang direnovasi.., silahkan ke B2..” sapa seorang cleaning service ketika meliat saya mondar-mandir didepan tangga menuju toilet yang ditutup dengan rak koran.
“Musholla..??” tanya saya singkat. 
“di B2 juga ada mas.. dari sini langsung lurus aja ke terminal B2” jawabnya lagi. 
“Ooo.. terima kasih ya..” saya menjawab sambil terseyum. 
Kemudian saya berjalan dari terminal keberangkatan B6 menuju terminal B2 Bandara Internasional Sokarno-Hatta. 

Diterminal B2.. Jam menunjukkan hampir masuk waktu sholat Dzuhur, saya kemudian langsung berwudhu ditempat yang telah disediakan didekat toilet, kemudian masuk keruangan berukuran 2.5x2.5 m yang dilabeli Musholla. Sebuah panah kecil diplafon ruangan menunjukkan arah kiblat. Dinding ruangan yang ditunjuk oleh panah di tempeli dengan sebuah kertas degan tulisan UTAMAKAN SHOLAT BERJAMAAH. Dibawahnya tertera Hadist Rosulullah[Sholallahu’alaihi wassalam] yang cukup populer dari jalan Shabat Ibnu Umar[Rodiallahuanhuma] yang berbunyi:

“Sholat berjamaah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat dari pada sholat sendirian”(H.R: Bukhori & Muslim).

Sebuah tulisan yang sering membuat saya tersenyum gembira sekaligus miris.. Gembira karena masih diigatkan untuk sholat berjamaah, tapi miris jika melihat kondisi ruangan yang membuat hal tersebut menjadi dilema.. bagaimana tidak, ruangan sebesar itu hanya bisa digunakan 5 orang dewasa secara berbanjar dan 2 baris (shof). Padahal, ruangan itu digunakan oleh laki-laki dan wanita!!. 
Dan ketika sedang asyik memerhatikan tulisan tersebut kemudian saya ditegur dengan suara seorang wanita.. “Sholat-nya berjamaah ya mas..” ajak seorang ibu muda disertai oleh anggukan seorang temannya. “ Tunggu sebentar ya.., masih ada yang sedang berwudhu” jawab saya. Tiba-tiba dua orang bapak-bapak masuk kedalam ruangan sambil saling berbisik “Jamak 2-2…” kemudian langsung Takbiratul ikram.. “Lho koq..” bisik ibu-ibu yang sudah dari tadi menunggu dengan sedikit bingung.. “Tunggu sebentare lagi kaya’nya..” jawab saya pelan sabil tersenyum melihat dua orang bapak-bapak yang tampaknya tergesa-gesa. Beberapa orang tertahan diluar ruangan karena kedua orang tersebut mengambil posisi tepat di depan pintu ruangan yang kebetulan merupakan arah kiblat.
Seingat saya, tidak ada penerbangan beberapa menit kedepan.. karena pada hari itu hampir semua penerbangan tertunda 1 Jam. Jadi tidak perlu terburu-buru dan tergesa-gesa untuk sholat.. toh masih banyak waktu untuk menunggu. 
Dan ketika kedua orang tersebut selesai menunaikan sholat, langsung beberapa orang laki-laki masuk kedalam ruangan.. saya langsung menyapa “Berjamaah ya..”. dan dijawab dengan anggukan oleh beberapa orang. Tanpa berpikir panjang saya langsung Iqomah sebagai tanda sholat berjamaah, takut-takut melakukan hal yang sama seperti 2 orang sbelumnya yang langsung mengerjakan sholat. Sholat pun langsung dimulai dengan di-Imam-i oleh seorang laki-laki berumur sekitar 40 tahunan. Dan Seperti biasa.. Sholat dilaksanakan dengan agak tergesa-gesa.. setelah selesai sholat-pun tidak bisa berlam-lama untuk berdzikir.. karena telah ditunggu oleh beberapa orang lainnya yang juga tampak tergesa-gesa..
Terasa aneh memang.. orang lebih suka duduk diruang tunggu dari pada duduk didalam ruangan tersebut..

Begitulah potret sederhana yang sering kita jumpai dalam keseharian kita.. Bukan pemandangan yang aneh rasanya melihat musholla (atau lebih tepat disebut tempat sholat) bersebelahan dengan toilet. 
Di tempat-tempat keramaian; Bandara, terminal Bus, Mall, bahkan gedung perkantoran sering sekali kita jumpai musholla terletak pada posisi yang tidak strategis. Musholla sering dibangun bersebelahan dengan toilet, tepat parkir, didekat tangga darurat, dan terkadang di lantai teratas gedung bertingkat. Jangan ditanya soal kondisinya.. hanya beberapa saja yang terawat dengan baik. Sisanya.. tidak terawat dengan baik. Ukurannya juga setali tiga uang.. seadanya..

Pernyataan sederhana yang harus dijawab bersama.. 
Bagaimana bisa sering dikunjungi, jika lokasi tidak stategis.. 
Bagaimana bisa betah, jika kondisinya tak bersahabat.. 
Bagaimana bisa meramaikannya, jika ukurannya tidak memadai..
Dan Bagaimana bisa berlama-lama didalamnya, jika kita tidak menganggapnya sekadar ritual yang harus diselesaikan dengan tergesa-gesa..


”Dan orang-orang yang memelihara sholatnya, mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka kekal didalamnya” (QS: Al Mu’minun: 9-11)




bersambung….. InsyaAlloh….