Beberapa waktu yang lalu..
“Maaf mas.. toiletnya sedang direnovasi.., silahkan ke B2..” sapa seorang cleaning service ketika meliat saya mondar-mandir didepan tangga menuju toilet yang ditutup dengan rak koran.
“Musholla..??” tanya saya singkat.
“di B2 juga ada mas.. dari sini langsung lurus aja ke terminal B2” jawabnya lagi.
“Ooo.. terima kasih ya..” saya menjawab sambil terseyum.
Kemudian saya berjalan dari terminal keberangkatan B6 menuju terminal B2 Bandara Internasional Sokarno-Hatta.
Diterminal B2.. Jam menunjukkan hampir masuk waktu sholat Dzuhur, saya kemudian langsung berwudhu ditempat yang telah disediakan didekat toilet, kemudian masuk keruangan berukuran 2.5x2.5 m yang dilabeli “Musholla”. Sebuah panah kecil diplafon ruangan menunjukkan arah kiblat. Dinding ruangan yang ditunjuk oleh panah di tempeli dengan sebuah kertas degan tulisan “UTAMAKAN SHOLAT BERJAMAAH”. Dibawahnya tertera Hadist Rosulullah[Sholallahu’alaihi wassalam] yang cukup populer dari jalan Shabat Ibnu Umar[Rodiallahuanhuma] yang berbunyi:
“Sholat berjamaah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat dari pada sholat sendirian”(H.R: Bukhori & Muslim).
Sebuah tulisan yang sering membuat saya tersenyum gembira sekaligus miris.. Gembira karena masih diigatkan untuk sholat berjamaah, tapi miris jika melihat kondisi ruangan yang membuat hal tersebut menjadi dilema.. bagaimana tidak, ruangan sebesar itu hanya bisa digunakan 5 orang dewasa secara berbanjar dan 2 baris (shof). Padahal, ruangan itu digunakan oleh laki-laki dan wanita!!.
Dan ketika sedang asyik memerhatikan tulisan tersebut kemudian saya ditegur dengan suara seorang wanita.. “Sholat-nya berjamaah ya mas..” ajak seorang ibu muda disertai oleh anggukan seorang temannya. “ Tunggu sebentar ya.., masih ada yang sedang berwudhu” jawab saya. Tiba-tiba dua orang bapak-bapak masuk kedalam ruangan sambil saling berbisik “Jamak 2-2…” kemudian langsung Takbiratul ikram.. “Lho koq..” bisik ibu-ibu yang sudah dari tadi menunggu dengan sedikit bingung.. “Tunggu sebentare lagi kaya’nya..” jawab saya pelan sabil tersenyum melihat dua orang bapak-bapak yang tampaknya tergesa-gesa. Beberapa orang tertahan diluar ruangan karena kedua orang tersebut mengambil posisi tepat di depan pintu ruangan yang kebetulan merupakan arah kiblat.
Seingat saya, tidak ada penerbangan beberapa menit kedepan.. karena pada hari itu hampir semua penerbangan tertunda 1 Jam. Jadi tidak perlu terburu-buru dan tergesa-gesa untuk sholat.. toh masih banyak waktu untuk menunggu.
Dan ketika kedua orang tersebut selesai menunaikan sholat, langsung beberapa orang laki-laki masuk kedalam ruangan.. saya langsung menyapa “Berjamaah ya..”. dan dijawab dengan anggukan oleh beberapa orang. Tanpa berpikir panjang saya langsung Iqomah sebagai tanda sholat berjamaah, takut-takut melakukan hal yang sama seperti 2 orang sbelumnya yang langsung mengerjakan sholat. Sholat pun langsung dimulai dengan di-Imam-i oleh seorang laki-laki berumur sekitar 40 tahunan. Dan Seperti biasa.. Sholat dilaksanakan dengan agak tergesa-gesa.. setelah selesai sholat-pun tidak bisa berlam-lama untuk berdzikir.. karena telah ditunggu oleh beberapa orang lainnya yang juga tampak tergesa-gesa..
Terasa aneh memang.. orang lebih suka duduk diruang tunggu dari pada duduk didalam ruangan tersebut..
Begitulah potret sederhana yang sering kita jumpai dalam keseharian kita.. Bukan pemandangan yang aneh rasanya melihat musholla (atau lebih tepat disebut tempat sholat) bersebelahan dengan toilet.
Di tempat-tempat keramaian; Bandara, terminal Bus, Mall, bahkan gedung perkantoran sering sekali kita jumpai musholla terletak pada posisi yang tidak strategis. Musholla sering dibangun bersebelahan dengan toilet, tepat parkir, didekat tangga darurat, dan terkadang di lantai teratas gedung bertingkat. Jangan ditanya soal kondisinya.. hanya beberapa saja yang terawat dengan baik. Sisanya.. tidak terawat dengan baik. Ukurannya juga setali tiga uang.. seadanya..
Pernyataan sederhana yang harus dijawab bersama..
Bagaimana bisa sering dikunjungi, jika lokasi tidak stategis..
Bagaimana bisa betah, jika kondisinya tak bersahabat..
Bagaimana bisa meramaikannya, jika ukurannya tidak memadai..
Dan Bagaimana bisa berlama-lama didalamnya, jika kita tidak menganggapnya sekadar ritual yang harus diselesaikan dengan tergesa-gesa..
”Dan orang-orang yang memelihara sholatnya, mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka kekal didalamnya” (QS: Al Mu’minun: 9-11)
bersambung….. InsyaAlloh….
“Maaf mas.. toiletnya sedang direnovasi.., silahkan ke B2..” sapa seorang cleaning service ketika meliat saya mondar-mandir didepan tangga menuju toilet yang ditutup dengan rak koran.
“Musholla..??” tanya saya singkat.
“di B2 juga ada mas.. dari sini langsung lurus aja ke terminal B2” jawabnya lagi.
“Ooo.. terima kasih ya..” saya menjawab sambil terseyum.
Kemudian saya berjalan dari terminal keberangkatan B6 menuju terminal B2 Bandara Internasional Sokarno-Hatta.
Diterminal B2.. Jam menunjukkan hampir masuk waktu sholat Dzuhur, saya kemudian langsung berwudhu ditempat yang telah disediakan didekat toilet, kemudian masuk keruangan berukuran 2.5x2.5 m yang dilabeli “Musholla”. Sebuah panah kecil diplafon ruangan menunjukkan arah kiblat. Dinding ruangan yang ditunjuk oleh panah di tempeli dengan sebuah kertas degan tulisan “UTAMAKAN SHOLAT BERJAMAAH”. Dibawahnya tertera Hadist Rosulullah[Sholallahu’alaihi wassalam] yang cukup populer dari jalan Shabat Ibnu Umar[Rodiallahuanhuma] yang berbunyi:
“Sholat berjamaah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat dari pada sholat sendirian”(H.R: Bukhori & Muslim).
Sebuah tulisan yang sering membuat saya tersenyum gembira sekaligus miris.. Gembira karena masih diigatkan untuk sholat berjamaah, tapi miris jika melihat kondisi ruangan yang membuat hal tersebut menjadi dilema.. bagaimana tidak, ruangan sebesar itu hanya bisa digunakan 5 orang dewasa secara berbanjar dan 2 baris (shof). Padahal, ruangan itu digunakan oleh laki-laki dan wanita!!.
Dan ketika sedang asyik memerhatikan tulisan tersebut kemudian saya ditegur dengan suara seorang wanita.. “Sholat-nya berjamaah ya mas..” ajak seorang ibu muda disertai oleh anggukan seorang temannya. “ Tunggu sebentar ya.., masih ada yang sedang berwudhu” jawab saya. Tiba-tiba dua orang bapak-bapak masuk kedalam ruangan sambil saling berbisik “Jamak 2-2…” kemudian langsung Takbiratul ikram.. “Lho koq..” bisik ibu-ibu yang sudah dari tadi menunggu dengan sedikit bingung.. “Tunggu sebentare lagi kaya’nya..” jawab saya pelan sabil tersenyum melihat dua orang bapak-bapak yang tampaknya tergesa-gesa. Beberapa orang tertahan diluar ruangan karena kedua orang tersebut mengambil posisi tepat di depan pintu ruangan yang kebetulan merupakan arah kiblat.
Seingat saya, tidak ada penerbangan beberapa menit kedepan.. karena pada hari itu hampir semua penerbangan tertunda 1 Jam. Jadi tidak perlu terburu-buru dan tergesa-gesa untuk sholat.. toh masih banyak waktu untuk menunggu.
Dan ketika kedua orang tersebut selesai menunaikan sholat, langsung beberapa orang laki-laki masuk kedalam ruangan.. saya langsung menyapa “Berjamaah ya..”. dan dijawab dengan anggukan oleh beberapa orang. Tanpa berpikir panjang saya langsung Iqomah sebagai tanda sholat berjamaah, takut-takut melakukan hal yang sama seperti 2 orang sbelumnya yang langsung mengerjakan sholat. Sholat pun langsung dimulai dengan di-Imam-i oleh seorang laki-laki berumur sekitar 40 tahunan. Dan Seperti biasa.. Sholat dilaksanakan dengan agak tergesa-gesa.. setelah selesai sholat-pun tidak bisa berlam-lama untuk berdzikir.. karena telah ditunggu oleh beberapa orang lainnya yang juga tampak tergesa-gesa..
Terasa aneh memang.. orang lebih suka duduk diruang tunggu dari pada duduk didalam ruangan tersebut..
Begitulah potret sederhana yang sering kita jumpai dalam keseharian kita.. Bukan pemandangan yang aneh rasanya melihat musholla (atau lebih tepat disebut tempat sholat) bersebelahan dengan toilet.
Di tempat-tempat keramaian; Bandara, terminal Bus, Mall, bahkan gedung perkantoran sering sekali kita jumpai musholla terletak pada posisi yang tidak strategis. Musholla sering dibangun bersebelahan dengan toilet, tepat parkir, didekat tangga darurat, dan terkadang di lantai teratas gedung bertingkat. Jangan ditanya soal kondisinya.. hanya beberapa saja yang terawat dengan baik. Sisanya.. tidak terawat dengan baik. Ukurannya juga setali tiga uang.. seadanya..
Pernyataan sederhana yang harus dijawab bersama..
Bagaimana bisa sering dikunjungi, jika lokasi tidak stategis..
Bagaimana bisa betah, jika kondisinya tak bersahabat..
Bagaimana bisa meramaikannya, jika ukurannya tidak memadai..
Dan Bagaimana bisa berlama-lama didalamnya, jika kita tidak menganggapnya sekadar ritual yang harus diselesaikan dengan tergesa-gesa..
”Dan orang-orang yang memelihara sholatnya, mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka kekal didalamnya” (QS: Al Mu’minun: 9-11)
bersambung….. InsyaAlloh….
