Tampilkan postingan dengan label About Us. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About Us. Tampilkan semua postingan
salty_fish


Ada lima jenis manusia jika ditilik dalam permasalahan ini..

Pertama, orang yang apabila diberi sesuatu dia menolak dengan keras, hingga terkadang dapat menyebabkan rusaknya hubungan dengan orang yang melakukan pemberian. Kedua, orang yang apabila diberi sesuatu melakukan penolakan secara halus tanpa mengakibatkan rusaknya hubungan dengan orang lain. Orang dengan katagori ini biasanya tetap bisa berhubungan baik dengan orang lain dan bisa memberikan pemahaman kepada yang melakukan pemberian sehingga tidak melakukannya lagi dikemudian hari. Ketiga, orang yang apabila diberi sesuatu terkadang melakukan penolakan secara halus dan terkadang terpaksa menerima karena segan atau tidak enak dengan orang yang dihadapinya. Dia tidak terpengaruh kinerja-nya dengan dan atau tanpa pemberian dari pihak lain.

Ke-empat, orang yang meminta untuk diberi sesuatu. Orang ini dengan terus terang atau terkadang secara sembunyi-sembunyi meminta “kutipan” atau imbalan diluar aturan resmi atas jasa sebelum atau setelah melakukan sesuatu pekerjaan. Kelima, orang yang bersiasat atau dengan sengaja membuat celah atau jalan, sehingga orang mau-tidak mau harus memberikan imbalan agar sesuatu pekerjaan dapat diselesaikan.

Yang terbaik diantara lima jenis orang ini adalah orang yang memegang prinsip kedua. Orang dengan katagori pertama adalah orang baik, hanya saja tatacara penyampaian penolakan terkadang harus diperhatikan. Rusak-nya hubungan dengan orang lain mungkin dapat menimbulkan kesulitan tersendiri di kemudian hari. Orang yang berada pada katagori ketiga adalah rata-rata kebanyakan orang.. rasa segan atau tidak-enakan untuk menolak karena takut di-cap sebagai orang dengan katagori pertama atau karena takut untuk merusak hubungan, atau bahkan karena berpandangan bahwa ini adalah hal yang lumrah dan tidak akan mempengaruhi kinerja dari yang bersangkutan menyebabkan orang terjebak dalam stereotype ini.

Orang dalam katagori ke-empat dan kelima, termasuk orang yang celaka..!! karena meminta sesuatu yang diluar hak-nya. Orang yang meminta imbalan diluar yang seharusnya saja sudah lumayan celaka, apalagi orang yang dengan sengaja menyiasati agar orang lain terpaksa memberikan sejumlah imbalan diluar ketentuan. Entah apapun alasannya jangan sampai kita termasuk dalam golongan ini.


Sedikit wejangan ringan namun bermakna dalam tersebut saya kutip dan saya ceritakan ulang dengan gaya bahasa saya sendiri. Saya sendiri tidak tahu siapa yang mengemukakan teori ini. Cerita ini sendiri saya dapatkan dari sebuah percakapan ringan dengan salah seorang atasan pada suatu waktu. 


Entah, sudah tak terhitung berapa kali cerita ini saya share kepada rekan-rekan yang lain. Yang sering jadi bahan diskusi kami adalah orang yang termasuk dalam katagori ketiga. Tak sedikit rekan diskusi yang menyatakan tak ada salahnya menerima imbalan selama tidak kita minta, anggap saja sebagai rejeki tambahan atau hibah dari yang memberi.. toh ada atau tidak ada pemberian tidak akan mempengaruhi kinerja kita.. Pernah juga kami berdiskusi sengit dengan salah seorang aktivis yang menyebutkan pemberian itu selayaknya diterima, karena sesungguhnya orang yang melakukan pemberian telah melakukan perhitungan secara akurat atas pemberian yang dilakukan. Selama kita masih bisa memanfaatkan pemberiaan itu secara bijaksana atau dapat digunakan untuk kepentingan umum itu adalah hal yang dianjurkan. Selanjutnya mereka memberikan gambaran mengerikan bahwa apabila pemberian itu bisa saja digunakan untuk kepentingan lain yang membahayakan atau untuk kepentingan kelompok tertentu yang dapat menyebabkan kerugian luas bagi masyarakat umum, karena pemberian itu (lagi-lagi) telah diperhitungkan dan harus dikeluarkan. *(note: mungkin gambaran tentang ‘aktivis’ ini agak sedikit membingungkan, hal ini sengaja saya lakukan karena tulisan ini saya tujukan untuk kalangan umum, sehingga tidak menyinggung kelompok tertentu).


Whatever apapun itu.. terserah orang lain berargumen tentang masalah ini.. saya adalah saya.. i’m proud to be me.. dan hingga saat ini, saya tidak berniat untuk berubah. Mungkin gambaran yang lebih sering muncul adalah saya termasuk orang yang terlihat marah ketika diberikan sesuatu diluar dari yang seharusnya. Sometimes people say.. i’m look like angger when someone step up on my pride.. Saya sepenuhnya sadar, terkadang saya lebih sering di-cap sebagai orang dengan katagori pertama. Walaupun sebenarnya saya selalu belajar untuk menjadi orang dengan katagori Kedua, orang yang tetap bisa menjalin hubungan baik dengan orang lain apapun keadaanya dan dapat memberikan pemahaman dengan baik.



Setiap manusia diberikan naluri dan logika untuk berpikir apa yang akan dilakukan. Sebuah pilihan tentu saja memiliki konsekuensi tersendiri. Tak perlu berkoar-koar seperti apa kita dan apa yang harus orang lain lakukan, biarkan saja orang lain yang menilai, biar waktu yang buktikan. Bagaimana dengan Anda, Siapa Anda? Termasuk golongan yang manakah Anda??




btw, IMHO.. seseorang yang menggunakan kekuasaanya untuk mempermudah atau memperlancar suatu pekerjaan diluar ketentuan, saya anggap sebagai "orang melakukan suatu pemberian".. entah itu dengan kekuasaan yang dia miliki atau bahkan dengan pressure yang dia gunakan karena menyalah gunakan sesuatu diluar wewenang jabatannya..
salty_fish
If a child lives with critism,
He Learns to Condemn

If a child lives with Hestility,
He Learns to Fight

If a child lives with Ridicule,
He Learns to be Shy

If a child lives with Shame,
He Learns to Guilty

If a child lives with Tolerance,
He Learns to be Patient

If a child lives with Encouragement,
He Learns to be Confident

If a child lives with Fairness,
He Learns Justice

If a child lives with Security,
He Learns to have Faith

If a child lives with approval,
He Learns ti like him self

If a child lives with accpetance and friendship,
He Learns to find love in the world...


By: Dorothy law nable (Not sure...)
Di’temukan’disebuah catatan usang pada saat iseng membaca buku-buku lama...


Menulis Untuk Membaca...
on march 2010
salty_fish
Beberapa minggu belakangan ini headline berita yang menjejali hampir seluruh surat kabar, majalah, dan stasiun televisi sepertinya kompak bercerita tentang seorang (oknum) pegawai dirjen pajak (dibawah departemen keuangan).

Orang (pegawai) biasa yang bisa memiliki harta dengan jumlah luar biasa. Saya sendiri tak terlalu tertarik mengikuti kasusnya, apalagi jika sudah disangkut-pautkan dengan dunia politik..

Hal yang membuat saya tertarik justru bagaimana orang biasa itu bisa berubah. Ordinary man becomes extraordinary man..



Penuturan dari orang tua pegawai tersebut yang saya baca disurat kabar dan saya lihat ditelevisi, menggambarkan bahwa dia dulu-nya adalah orang biasa.
Cerita bagaimana perkembangan anak dari orang tua yang biasa-biasa saja pula. Menurut saya, dia Tipikal yang standar dari anak indonesia; rajin, tekun, gemar menabung dan..(hehehe.. ga perlu dilajutkan sifat-sifat baik seterusnya..).

Cerita jaman dahulu dari si-anak kecil hingga tamat kuliah menurut saya standar-standar saja.. tak ada yang istimewa. Lalu.. bagaimana seseorang bisa berubah? Apakah rumus baku kriminalitas berlaku? Ada Niat dan Ada Kesempatan, maka ada kejahatan. Saya yakin, anda paham yang saya maksud.. toh rasanya program-program berita kriminal terus-menerus mengingatkan rumus itu.. ;)

Saya teringat pada sebuah cerita.. Entah cerita ini mempunyai relevansi atau tidak dengan apa yang terjadi dengan cerita diatas. Yang Jelas ini hanya sebuah cerita..


Alkisah sebuah keluarga yang terdiri dari seorang bapak dan anak laki-lakinya yang beranjak remaja. Keluarga ini melakukan perjalanan jauh kesuatu negeri antah berantah. Perjalanan yang jauh memaksa mereka membawa banyak barang keperluan. Hanya saja, mereka tak cukup kaya untuk membeli kuda atau membuat kereta untuk membawa keperluan mereka. Yang mereka punya hanyalah seekor keledai tua. Jadilah mereka berpergian dengan keledai tua itu.

Mereka berjalan kaki sambil menuntun keledai yang membawa barang bawaan mereka. Tibalah mereka disebuah perkampungan. Di perkampungan itu mereka mendengar bisikan-bisikan tak menyenangkan dari warga kampung itu..
“Betapa bodohnya mereka..!, bukankah keledai untuk ditunggangi? Perjalanan masih jauh.. mengapa mereka berjaan kaki??” Begitulah bisikan-bisikan dari warga kampung yang membuat telinga mereka panas.
Mereka pun melanjutkan perjalanan..

Ditengah perjalanan mereka berdiskusi. Mereka kemudian menuruti apa yang dikatakan penduduk kampung. Sang anak mengalah, dan mengajukan diri menuntun keledai yang ditunggangi bapaknya sambil berjalan kaki. Tibalah mereka di perkampungan lainnya. Di perkampungan itu mereka mendengarkan celotehan dari warga kampung yang memerahkan telinga..
“Betapa teganya Sang Bapak.. Dia asyik menunggangi keledai, tetapi anaknya dibiarkan berjalan kaki menempuh perjalanan jauh..” Celotehan itu membuat mereka tak berlama-lama dan melanjutkan perjalanan mereka.

Ditengah-tengan perjalanan mereka kembali berdiskusi. Kali ini, Sang Bapak memerintahkan anaknya untuk menaiki keledai, sedangkan dia menuntun keledai sambil berjalan kaki. Sang Bapak malu dianggap tega terhadap Anaknya. Tibalah mereka disebuah perkampungan.. Kali ini cibiran yang mereka dapatkan.
“Betapa Durhakanya sang Anak.. !! Dia membiarkan orang tuanya menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki, sedangkan dia dengan santai menunggangi keledai..”. Cibiran-cibiran itupun membuat mereka segera beranjak meninggalkan kampung itu.

Perjalanan masih jauh.. bisikan, celotehan, dan cibiran membuat mereka kembali berdiskusi. Kali ini keduanya sepakat untuk menaiki keledai selama perjalanan. Tibalah mereka disebuah perkampungan. Dan dikampung ini mereka mendapat ejekan dari warga kampung..
“Lihat betapa kejamnya mereka pada binatang.. Keledai tua harus memikul beban barang ditambah dua orang menungganinya.. apakah mereka tidak kasihan pada keledai tua itu..?!”. Ejekan warga kampung membuat mereka bergegas meninggalkan kampung itu untuk melanjutkan perjalanan.

Kali ini mereka bingung.. apa yang akan mereka hadapi diperkampungan didepan?. Semua metode telah ditempuh, tak ada yang sesuai.. akhirnya mereka memikul keledai bersama dengan barang bawaan. Dan Tentu saja.. diperkampungan selanjutnya mereka disebut “Gila...!!!!”.

.....


Cerita diatas mungkin gambaran ekstrim bagaimana seseorang berusaha beradaptasi dengan lingkungannya. Akan tetapi, tanpa kita sadari banyak hal yang sebenarnya kita kompromikan. Entah mengarah kepada kebaikan atau malah menuju jurang kehancuran.

Beberapa orang terkadang terlalu sibuk mendengarkan “apa kata orang”, sehingga terkadang lupa bagaimana yang benar. Beberapa orang lainnya sibuk menyesuaikan diri untuk bertahan ditengah-tengah lingkungannya. Awalnya mungkin hanya sedikit bertoleransi, segan untuk tidak sama dengan pemikiran kebanyakan orang dilingkungannya, atau sekadar enggan untuk terlihat sedikit berbeda, mungkin pula jengah dan bosan dengan perdebatan. Dan yang terjadi selanjutnya adalah.. “ikut arus”. 

Saya sendiri tak berani berspekulasi atau sekadar berangan-angan,
“Apa yang akan terjadi jika saya berada di posisi serupa?”.

Saat ini jika ditanya, tentu saya (dengan penuh idealisme) menjawab “tidak, saya berbeda.. saya akan membuat perubahan...”.
Tetapi jika saya dihadapkan dengan permasalahan serupa, dengan begitu banyak tekanan dan godaan.. lagi-lagi saya jawab, saya tak mau berangan-angan sejauh itu..
Satu hal, saya hanya bisa bersyukur dengan keadaan saat ini, mungkin bukan seperti yang diimpikan, tetapi saya yakin ini merupakan rancangan terbaik dari yang Maha Kuasa. Tak masalah menjadi seperti orang asing.. toh hidup adalah sebuah perjalanan. Untung saya bukan orang.........

Begitulah metode yang kita gunakan untuk berinteraksi dengan lingkungan disekitar kita.
Adaptasi yang kita lakukan berupa pilihan sulit..
Antara memberi warna atau noda..
Antara melakukan perubahan atau dirubah..
salty_fish
Suatu hari di salah satu warehouse cargo bandara..
Tak perlu rasanya saya sebutkan nama tempatnya disini, toh.. tulisan ini hanya sekadar contoh kecil yang kebetulan terlintas dipikiran saya. Rasa jenuh karena lama menunggu membuat mata saya berputar melihat sekeliling gudang itu. Bunyi printer bersuara nyaring mirip jangkrik langsung mengingatkan saya pada tempat yang berbeda, tempat yang mem-produksi ‘benda’ yang bersuara mirip jangkrik itu.

Ruangan dengan nama warehouse di pabrik itu jauh berbeda keadaanya. Tak ada sarang laba-laba disudut ruangan disana, bahkan debu pun dilarang ‘hadir’ disana. Sistem Administrasinya juga tertata cukup rapi. Tak seperti dibandara ini, tulisan besar (yang kalau saya tak salah ingat) berbunyi Petugas dilarang menerima pungutan diluar pungutan resmi seperti tak bisa dibaca dengan benar oleh petugas disana.



Jangan ditanya.. bertanya pada petugas keamanan pun harus diselipi uang lima ribuan. Ada juga yang bertugas memeriksa kelengkapan dokumen, ketika keluar dari sana rekan saya dibisiki “Uang Rokok-nya pak..”, dan lagi-lagi beberapa lembar uang ribuan harus keluar..

Yang rasanya tidak mengejutkan adalah bagaimana cara memasukkan barang yang kami bawa kedalam mobil carteran. Barang yang kami bawa beratnya seikitar 170 kg. Ditempat kami, beberapa orang dewasa rasanya bisa mengangkatnya.
Tapi, digudang ini, begitu melihat berat barang pada dokumen,
petugas berguman (tetapi dengan suara keras) “sepertinya butuh forklift untuk mengangkatnya..”.
“Gila...!!” seru saya dalam hati.. “disuruh sewa forklift nih..”.

saya dan rekan sepakat untuk pura-pura cuek dan tak mendengar ucapan petugas itu. Ternyata cara itu tak terlalu berhasil.. di bagian depan gudang telah menunggu beberapa orang (yang mungkin juga petugas) bersiap-siap mengangkut barang. Benar saja, setelah uang puluhan ribu berwarna biru diselipkan sembari berjabat tangan, beberapa orang dengan sigap dan cekatan menentukan cara yang pas untuk membawa barang tersebut kedalam mobil. Nah lho... tak butuh Forklift khan..?!! Lihatlah.. Ada apa dengan mereka..!!

Saya tak bertanya, berapa banyak uang ‘tak resmi’ yang harus dikeluarkan oleh rekan saya hari itu.
Ketika ada yang bertanya , rekan saya pun hanya menjawab dengan “banyak..!!”.
“Itu baru ambil barang pak... kalau kirim barang, lebih banyak lagi yang harus keluar..” seloroh sopir mobil yang membawa kami ketempat tujuan.
Saya hanya bisa menjawabnya dengan menggeleng-gelengkan kepala..

“About Us..” Begitulah (kalau tidak salah ingat) judul sebuah email yang di’forward’ oleh teman-teman saya beberapa tahun yang lalu. Sebuah email yang berisi tulisan seorang ekspatriat disebuah koran nasional berbahasa asing. Tulisan itu sendiri bercerita tentang kehidupan anak-anak indonesia. Keseharian anak Indonesia yang banyak dihabiskan didepan televisi dan melakukan kegiatan-kegiatan yang menurutnya tidak berguna.
Dia kemudian membandingkan dengan apa dan bagaimana yang dilakukan oleh anak-anak dinegara asalnya. Sebuah perbandingan yang menurut saya bertujuan untuk membuka mata sekaligus menyentil telinga orang Indonesia keras-keras.

Waktu itu saya kemudian mem’forward’ email tersebut ke teman-teman yang lain. Kala itu, sengaja saya kirim dengan ‘BCC’ karena saya tak terlalu menyukai perdebatan panjang.
Komentar yang paling menarik (dan kemudian saya angkat keforum) adalah dari seorang teman yang mengajukan keberatan dengan isi email itu. Intinya.. tak semua anak Indonesia melakukan hal serupa, lagi pula.. Perbandingan yang digunakan jelas tak sama. “Beda..!!” selorohnya..
kondisi negara kita saat ini jelas berbeda dengan negara mereka saat ini. Coba bandingkan dengan kondisi mereka pada saat revolusi Industri..!! Begitu Argumentasinya.
Jujur saja.. saya sebenarnya tak terlalu setuju dengan isi tulisan itu, tapi.. sekadar sentilan keras rasanya tak mengapa.

Kometar sejenis juga saya dapatkan lewat tulisan “salah-nya Si Kodok (about us.. part 1)”... ‘Beda..!! begitulah sanggahan yang saya tangkap.
“comparasi yang tak sesuai dan terkesan merendahkan bangsa sendiri”, begitulah kometar dari seorang teman..
Saya tak bermaksud membela diri, cerita pada bagian awal tulisan ini hanya sekadar contoh kecil.. Apa yang berbeda?? Kedua nya di Negara yang sama dan dikelola oleh orang indonesia. Hanya saja, yang satu milik negara (pemerintah) sedangkan yang lainnya milik swasta (asing). Lalu.. bagaimana bisa berbeda?? 

Saya juga enggan berbicara tentang mentalitas atau moralitas lewat tulisan ini. Dengan sengaja juga saya tak memberi arahan atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam rangkaian tulisan dengan judul “about us..“. Hanya sekadar berbagi cerita, selebihnya.. terserah..

Maybe little bit pressure or effort needed... Hah.... sedikit ?? Yakin loe?? ;))
salty_fish
“Jangan main disitu… ! Banyak Polisi… Nanti ditangkap Polisi Lho..”  Teriak seorang ibu yang terlihat kewalahan mengejar anaknya yang berlarian di tepi pantai.
Mendengar teriakan ibunya, sang anak pun berhenti berlari dan kemudian berbalik kearah ibunya..

Lagi-lagi sebuah potret keseharian pendidikan anak yang sering terjadi dan terkesan lumrah.
Cerita sederhana yang kebetulan saya tangkap beberapa waktu yang lalu di tengah-tegah kemeriahan rangkaian acara peringatan hari jadi kota Tanjungpandan yang diselenggarakan di pantai Tanjung Pendam.

“Bahaya… anak-anak koq diajari takut Polisi..” celetuk seorang teman yang kebetulan juga mengamati kejadian itu.
“Pola yang salah tuh.. Jangan lakukan hal yang sama..” jawab saya sekenanya.



Saya kemudian teringat beberapa cerita dongeng yang dulu pernah dibaca.
Salah-satunya adalah dongeng dengan happy ending tentang
Bebek Buruk Rupa”.
Cerita itu tentang telur angsa yang dierami oleh induk bebek dan menetas bersama bebek-bebek lainnya. Bebek dengan penampilan berbeda ini dianggap buruk rupa, sehingga dikucilkan oleh kawanannya.
Singkat cerita dikemudian hari si-bebek buruk rupa tumbuh dewasa menjadi Angsa dewasa yang rupawan, dan diakhir cerita hidup berbahagia bersama kawanan angsa lainnya.
Cerita dengan Happy ending seperti itu merupakan dongeng yang biasanya sering diceritakan.

Ini kisah yang sedikit berbeda. Saya pernah membaca cerita sejenis dengan ‘Ending’ yang bisa dibilang tidak menggembirakan.
Sebuah cerita tentang telur Elang yang jatuh dan dierami induk ayam. Telur elang ini kemudian menetas bersama anak-anak ayam dan didik sebagai seekor ayam.
Anak ayam didik agar tak jauh dari kawanannya, anak ayam didik untuk mencari makan dengan mengais-ngais tanah untuk mencari biji-bijian. Mereka tidak pernah diajarkan bagaimana caranya terbang. Anak ayam ditakut-takuti dan tak boleh bermain ditanah lapang, karena mereka akan menjadi incaran para elang.
Anak ayam dilarang bermain didekat sungai karena meraka tak bisa berenang dan akan mati tenggelam.

Singkat cerita telur elang yang dierami, menetas, dan didik sebagaimana anak ayam ini pun tumbuh dewasa sebagai seekor ayam.
Sayap-nya kaku tak bisa terbang, karena dia tak pernah diajarkan untuk terbang.
Dia tak pernah berani bermain ditanah lapang karena takut menjadi incaran para elang.
Paruh-nya tumpul karena hanya dipakai untuk mematuk tanah dan bebatuan, tak sekalipun digunakan untuk mencabik-cabik mangsanya.
Cakar-nya pun tak panjang dang cengkraman kaki-kakinya tak kuat, karena hanya diajarkan untuk mengais tanah dan bebatuan. Tak sekalipun dia berani bermain ditepian sungai, karena dia takut mati tenggelam. Dia pun menjadi tua dan mati sebagai ayam.

Telur Elang yang memiliki Gen Penguasa angkasa tak berkembang sebagaimana potensinya karena dia hanya didik sebagai ayam.

Memang sulit untuk dapat mengetahui potensi dan ‘skill’ apa yang terpendam didalam diri seseorang. Sedikit memberikan jalan dan arahan untuk lebih berani mungkin akan sangat bermanfaat.
Akan tetapi, ketakutan, ketidak tahuan, ditambah dengan ketidak sabaran dalam mengarahkan menjadi perpaduan yang biasa tetapi sering berbuah binasa.

Kalimat sederhana yang mengarahkan seperti “Ayo.. dipakai Helm-nya.. nanti ditangkap Pak Polisi Lho..”, terkadang berbuah ketakutan berlebihan kepada polisi, atau malah menjadi kebiasaan patuh hanya karena ada polisi saja. Banyak juga orang dewasa penakut yang takut hantu lantaran ketika kecil dia mungkin ditakut-takuti dengan hantu. Sebagian lagi menjadi trauma, misalnya takut akan jarum suntik karena ketika nakal anak-anak sering ditakuti dengan kalimat “Hayoo… kalau nakal nanti disuntik sama dokter lho..” Pembelajaran dengan takut salah membuat seseorang tak pernah berani untuk mencoba. Mereka mungkin mempunyai potensi sebagai seorang Polisi, Dokter, atau lebih dari itu. Hanya saja mereka justru didik untuk takut bukan untuk berani.

Terkadang terasa sulit dan berat untuk mengarahkan tanpa menakut-nakuti, tetapi pembelajaran dengan memberikan pemahaman adalah yang terbaik agar tak mematikan potensi yang dimiliki. Pemahaman mengapa sesuatu layak atau tak layak untuk dikerjakan, ditambah sedikit motivasi untuk lebih berani untuk mencoba, menjadikan potensi yang dimiliki dapat lebih tergali, atau bahkan melampaui ekspetasi.
Bagaikan Elang yang menguasai angkasa, bukan ayam yang takut mati..

You're Not Chicken?? Are you??
salty_fish
Disebuah pesawat milik maskapai penerbangan indonesia, kebetulan saya mendapatkan tempat duduk dibagian tegah pesawat didekat jendela. ‘Sound pressure level’ didalam pesawat yang sering membuat telinga berdengung membuat saya berusaha se-rileks mungkin didalam pesawat.Solusinya adalah membawa buku bacaan yang membuat saya sedikit lupa keadaan disekitar.

Sekilas saya mendengar percakapan seorang ibu muda yag duduk dibagian depan saya, sedang mengomeli anak-nya yang terus bergerak tidak mau dipakaikan ‘safety belt’.

“adek… ayo jangan nakal.. pakai dong sabuk pengamannya…” bujuk sang ibu..
Si-anak tetep saja acuh tak acuh dengan bujukan ibunya.
 “Kalo ga mau.. nanti dimarah sama tante pramugari lho…” Ancam sang ibu yang membuat si-anak mulai tenang.



Saya sendiri sempat tersenyum kecil ditegah bacaan yang sebenarnya cukup berat. Setengah iseng saya berguman didalam hati.. “gimana ya.. kalo pramugari marah..”.
Sejurus kemudian seperti biasa pramugari melakukan pengecekan pemakain ‘safety belt’ oleh penumpang. Tatkala pramugari berlalu setelah melakukan tugasnya,
sang ibu berkata ke pada anak-nya, “untung adek udah pake’.. kalo ga.. pasti dimarah sama tante pramugari..”

Cuplikan adegan antara ibu dan anak ini langsung mengingatkan saya pada sebuah cerita. Cerita yang mungkin sering anda baca, dan mungkin pula pernah anda alami. Cerita bagaimana orang tua mendidik anaknya..

Dulu, ketika anak terjatuh yang paling sering dicari adalah ‘kodok’.
Lho koq Bisa?? Sebuah reaksi orang tua yang kemudian tertanam sebagai Ideologi bagi anak-anaknya. Cobalah anda ingat-ingat kembali.. apa yang dikatakan orang tua ketika anaknya terjatuh dan kemudian menangis?

Reaksi sederhana yang biasanya diucapkan adalah..
      “Duh… kodoknya nakal ya..”.
      “kodok nich yang salah bikin adek jatuh..padahal adek ga salah lho…”
dan entah kalimat apalagi yang diucapkan oleh seorang ibu untuk melampiaskan kekesalannya.

Yang lebih sial lagi biasanya Ayam.. Sering ketika si-ayam sedang asyik mencari makan dengan mengais-ngais tanah, dan pada saat yang sama anak terjatuh ketika sedang belajar berjalan, maka oarng tua pura-pura melempar ayam sambil berkata
    “Hush..hush… ayam nakal.. sudah ibu usir tuh.. biar ga ganggu adek lagi..”.

Sekarang mungkin sulit mencari ayam yang berkeliaran disekitar rumah, apalagi kodok. Agak aneh rasanya menyalahkan kodok yang ‘rupa’-nya pun tidak dapat dibayangkan oleh sang anak.
Dan saya rasa anda tahu siapa yang biasanya disalahkan..
Ya, sosok yang banyak membantu anda, tetapi paling mudah jadi sasaran kemarahan. Pembantu rumah tangga atau mungkin ‘baby sitter’ adalah ‘si-kodok’ yang menjadi sasaran.

Saya teringat cerita beberapa tahun yang lalu ketika saya masih kuliah di kota Malang. Kebetulan waktu itu saya sempat ‘kost’ disebuah rumah besar. Rumah yang dimiliki oleh sebuah keluarga yang kedua orang tua-nya bekerja. Sepasang suami istri ini dikaruniai 3 orang anak laki-laki. 2 orang anak memasuki usia remaja dan bersekolah di SMA, sedangkan ‘si bungsu’ sendiri masih duduk si bangku SD.
Seringkali ketika sang ibu pulang melihat kaki si bungsu diplester karena luka, langsung saja memarahi pembantu didepan anak-anak..
     ”Biiik.. kaki adek koq luka… diperhatikan donk… jangan dibaiarkan saja…!!”.
Padahal mungkin saja anak-nya jatuh saat disekolah.

Lain waktu ketika anak-anaknya asyik bermain-PS sampai lupa makan. Lagi-lagi pembantulah yang jadi sasaran..
     “Biiik.. anak-anak koq ga keurus sih.. “.
     “koq ga diberi makan..”.
     “koq dibiarin maen PS terus-terusan sih..”,
dan beragam kekesalan lainnya.

Padahal seingat saya.. sudah beberapa kali anak-anak diingatkan dan dipaksa untuk makan oleh pembantu, tetapi tidak diindahkan.. Tetap saja ‘kodok’-lah yang disalahkan.

Sekilas kita lihat beberapa negeri dibelahan dunia lain. Anda pasti sering mendengar seberapa militannya anak-anak dari Palestina dan Iran. Bayangkan saja perjuangan mereka yang tak kenal rasa takut. Di negara-negara ini orangtua bersama-sama pemerintah mengajarkan kepada anak-anak kerinduan untuk mati syahid dan menjalin persaudaraan dengan seluruh umat Islam dunia. Anak-anak dikumpulkan untuk mendengar kisah-kisah perjuangan para syuhada. Mereka mendengarkan dalam suasana yang heroik. Satu demi satu cerita sampai akhirnya mencapai puncak kisah, keharuan yang didambakan dan kebahagiaan yang dicita-citakan yaitu hidup mulia atau mati syahid. Dari didikan inilah lahir para pejuang yang tak kenal rasa takut.

Lain lagi cerita tentang anak-anak di negara Jepang yang mengklaim dirinya sebagai negeri matahari terbit. Di negara ini, sedari kecil anak-anak mereka ditanamkan dengan jiwa ksatria, sportivitas, kerjasama, dan semangat pantang menyerah. Dari rumah, hingga dunia entertainment sedari kecil mereka ditanamkan semangat ini. Mulai dari cerita sejarah atau didalam manga (komik), hingga ke ranah animasi semua mengajarkan hal yang sama. Maka tak heran jika dampak positiflah yang menjadi buah ketika mereka dewasa.

Kembali lagi kepada orangtua di Indonesia, apa yang dihasilkan dari didikan yang diberikan tersebut??
Jika anak-anak Jepang belajar menjadi samurai, anak-anak ’kodok’ belajar mencari alasan.
Anak kodok tidak berani mengakui kesalahan dan selalu berusaha mencari-cari pembenaran jika berbuat salah.
Jika anak-anak di palestinan dan Iran sejak kecil dididik merindukan mati syahid, dengan cara bersungguh-sungguh berjuang sebagai apa pun untuk Islam, anak-anak ’kodok’ terdidik untuk menikmati hasil perjuangan orang lain. Anak ’kodok’ mengembangkan perilaku yang suka menyalahkan sesuatu
karena ia tidak mampu melakukan, perilaku suka mencari-cari kesalahan diluar dirinya agar ia memiliki cukup alasan untuk memafkan dirinya sendiri.

Seorang anak menyalahkan orangtuanya yang tidak mendaftarkannya les ’sempoa’ ketika ia mendapatkan nilai rendah pada pelajaran berhitung.
Remaja menyalahkan bapaknya yang tidak memberikan fasiltas untuk menyalurkan ’hoby’-nya ketika bakatnya ’tidak berkembang’.
Sedangkan cerita lucu dijalanan adalah seorang pengendara sepeda motor yang meyalahkan polisi yang meminta ’uang damai’, ketika ia melanggar lampu merah.

Semua ini kemudian tertanam dijiwa anak-anak Indonesia hingga disaat mereka menjadi pemimpin. Mereka menjadi pemimpin yang selalu menyalahkan Kodok. Pun ketika menjadi bawahan mereka juga menyalahkan si-kodok.

Bukan perkara yang aneh jika pada saat ada ’gangguan besar’ bagian distribusi menyalahkan pembangkit yang tak bisa ’mejaga’ keandalan mesin tua-nya. Tak kalah sewot Pembangkit pun menyalahkan bagian distribusi yang tidak melakukan penelusuran gangguan jaringan dan selalu main coba-coba. Bagian teknik mengeluhkan lambannya perbaikan karena dana yang tak kunjung ’cair’ dari bagian keuangan. Bagian Keuangan pun ribut menyalahkan bagian teknik yang boros berbelanja. Karyawan menyalahkan bagian SDM yang tak memfasilitasi karyawannya untuk berkembang, dan bagian SDM pun menyalahkan karyawannya yang tak mau ’memajukan’ dirinya sendiri. Dan yang paling biasa adalah keluhan karyawan akan kesejahteraan yang tak diperhatikan oleh atasannya, sebaliknya atasan pun menyalahkan bawahan yang lamban dan banyak meminta.

Terkadang malu dan berat rasanya untuk menunjuk diri sendiri atas sebuah kesalahan. Hal yang paling gampang ketika ditanya.. Ini salah siapa?? Jawaban mudah adalah.. ”Salah-nya Si-Kodok..!!”