salty_fish
Manusia adalah tempatnya keluh kesah.. Begitulah bunyi sebuah ungkapan, yang saya sendiri lupa darimana asalnya..(hehehe ^_^). Tapi jika dicerna lebih dalam, terkadang ada benarnya. Tak lega hati rasanya jika kita tidak mengeluhkan permasalahan atau ketidak beruntungan yang dihadapi. Keluhan mungkin disampaikan secara tepat sasaran bila disampaikan kepada ‘seseorang’ yang mempunyai kemampuan untuk memberikan saran atau bahkan solusi untuk mengatasinya. Akan tetapi sebagian orang (mungkin termasuk saya) tidak mempunyai keberanian, atau cukup merasa puas dengan hanya mengeluh untuk melepas penat didada. Keluhan bisa saja disampaikan kepada orang lain secara verbal, atau bisa pula dengan sekadar membaginya lewat tulisan di blog pribadi, komunitas-komunitas dunia maya, atau bisa pula dengan cara yang sedang ngetrend saat ini; yaitu dengan membaginya lewat status Facebook atau twitter.. (hayoo.. siapa ya...?? )

Keluhan bisa saja berdampak positif baik bagi yang menyampaikannya maupun bagi yang mendengar atau membacanya. Bagi yang menyampaikan keluhan mungkin saran atau bahkan solusi terbaik akan didapat, atau cukup-lah dengan hilangnya kepenatan didada dengan kata-kata menghibur atau komentar-komentar lucu yang disampaikan oleh orang lain. Sedangkan bagi yang mendengarkan boleh jadi hal itu menjadi pelajaran, atau bahkan hiburan bagi yang merasakan hal serupa.. bersyukurlah.. karena mungkin ada orang lain yang mengalami hal yang lebih tidak menyenangkan dibandingkan anda.


Keluhan dapat pula berdampak Negatif bagi keduanya.. Orang yang mengeluh mungkin merasa depresi jika tidak menemukan jalan keluar bagi permasalahannya. Demikian pula energi negatif itu dapat menular pada mereka mendengarkannya. Sebagian (kecil) orang mungkin merasa terganggu dengan keluhan-keluhan yang disampaikan. Atau mungkin memiliki pemikiran bahwa orang lain yang mengalamai permasalahan kecil saja sudah menyerah.. “bagaimana dengan permasalahan pelik yang saya alami..?, tentu saya lebih layak untuk mengeluh..”

Tulisan ini sendiri terilhami oleh sebuah parodi unik yang saya baca diwaktu senggang beberapa waktu yang lalu. Sebuah cerita tentang bagaimana rasanya jika sesorang merasa dirinya jelek, miskin, lagi bodoh.. (idup lagi..hehehehe). Kombinasi ketidak beruntungan yang membuat si-empunya perkara menjadi susah dan merasa rendah diri. Tapi perasaan penuh percaya diri dan berusaha untuk selalu menikmati setiap permasalahan dengan selalu berpikir positif akan sangat membantu..


Selalu ada nikmat dibalik kesusahan, selalu ada hikmah dibalik sebuah cobaan, dan selalu ada keindahan dibalik kesulitan.. Secara sadar, jika kita meyakini ada kenikmatan dibalik kesulitan yang kita alami, atau tersimpan sebuah keindahan dibalik rintangan yang harus kita lalui, pastilah kita akan rela atau bahkan akan berusaha dengan keras untuk menghadapi segala macam rintangan.


Sedikit cerita perjalanan liburan (beberapa waktu yang lalu) dari saya tentang keindahan dan rintangan yang terasa amat kecil setelah merasakan sesuatu yang menyenangkan..
Perjalanan menarik pertama adalah liburan dikaki gunung Dempo.. Bagi saya ini bukan kunjungan pertama kali, tapi pemandangan menarik-nya selalu menggoda. Jalan yang (sedikit) rusak dan berliku cukup membuat kepala berputar, belum lagi perubahan tekanan udara (akibat ketinggian) membuat kepala serasa mau pecah, ditambah dingin malam yang menyengat serasa menambah penderitaan, mungkin karena saya sudah lama tak berkunjung, atau mungkn cuaca panas daerah pantai yang biasa saya alami membuat tubuh tak lagi terbiasa dengan suasana yang berbeda. Tapi.. Hamparan hijaunya perkebunan teh, indahnya pemandangan pegunungan, dan sejuknya udara membuat tak ada yang harus dikeluhkan.. hanya pujian “SUBHANALLAH” yang layak diucapkan atas segala keindahan..


Perjalanan menarik dengan ‘cita rasa’ berbeda juga saya nikmati beberapa waktu yang lalu. Liburan di Pulau Lengkuas dan Pulau Burung.. Terus terang perjalanan menyebrangi lautan dengan kapal nelayan merupakan pengalaman pertama bagi saya.. Hujan yang turun dipagi hari sebelum keberangkatan rasanya seperti sebuah rintangan. Dan lagi Saya tak hoby memancing (apalagi ‘melaut’..) jadi wajar rasanya jika goncangan ombak serasa mengaduk-aduk isi perut dan membuat badan serasa panas dingin.. Tapi.. lagi-lagi semua serasa tak berarti dibandingkan pemandangan indah didepan mata.. entah berapa kali saya berguman “SUBHANALLAH indahnya...”. kaki yang serasa bergoyang pun tetap dipaksakan untuk menaiki menara mercu suar, dan benar saja.. sedikit pengorbanan serasa berbayar lunas.. Sungguh Indah..SUBHANALLAH...






Dikedua perjalanan tersebut saya sempat berpikir.. bagaimana jadinya jika saya bekerja dengan kondisi medan seperti ini? Bagaimana rasanya menjaga mercu suar dipulau kecil, tapa listrik, tanpa hiburan, tanpa televisi, tanpa jaringan internet ..?! (walaupun hanya sekilas) saya berguman.. I’m Feeling Lucky...!!










Keluhan.. terkadang keluar begitu mudah. Terkadang kita terlampau cepat bersusah hati padahal sesuatu yang indah telah menanti. Sebuah ‘Grand Design’ telah direncanakan secara tepat untuk kita, rintangan adalah cobaan untuk menguji seberapa pantas diri kita untuk rencana itu. Mungkin rencana itu bukan seperti yang kita ingini, tapi itu adalah yang terbaik bagi kita..




Jadi.. Nikmati saja..!!!
0 Responses